Manusia dan Kebudayaan
Makin banyak manusia tahu maka makin banyak pertanyaan timbul. Keingintahuan akan asal dan tujuan, tentang hakikat diri, tentang nasib, tentang kebebasannya dan kemungkinan-kemungkinannya. Semakin manusia membedah ketahuan akan dirinya maka semakin banyak menyisakan sisi ketidaktahuan akan dirinya. Sampai sekarang manusia adalah misteri terbesar di dunia yang memiliki banyak pertanyaan, seperti yang tertulis dalam sajak kuno:
Aku datang --- entah dari mana,
Aku ini ---- entah siapa,
Aku pergi ---- entah kemana,
Aku akan mati --- entah kapan,
Aku heran bahwa aku gembira…
1. Pendahuluan
Banyaknya pertanyaan inilah yang menyebabkan manusia befikir akan dirinya, akan keberadaannya, akan kelangsungan hidupnya, dan akan segala keinginannya. Proses berfikir inilah kemudian berkembang menjadi ilmu pengetahuan, yang dipergunakan sebagai alat mempertahankan kelangsungan hidupnya. Karena bagaimanapun juga faktor utama yang paling diperlukan manusia adalah kehidupan.
Oleh sebab itulah maka semakin berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai akibat dari makin berkembangnya tantangan yang dihadapi, membawa manusia makin kreatif dan inovatif dalam memanfaatkan segala peluang yang ada dalam mengatasi segala kekurangan dan kelemahannya dalam upaya mempertahankan hidupnya yang berdampak pula pada munculnya keinginan memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang lain.
Akibat semakin banyaknya keinginan manusia untuk memenuhi tuntutan kebutuhannya, memaksa manusia satu dengan yang lain bersepakat mengikatkan diri bekerjasama untuk saling memenuhi kekurangannya. Proses kerjasama secara turun temurun inilah yang berkembang menjadi budaya.
2. Hakikat Diri Manusia
2.a Sudut Pandang Filsafat
Secara hakikat manusia dibagi menjadi dua, yaitu hakikat raga dan hakikat jiwa. Raga manusia memiliki banyak kesamaan dengan makhluk hidup yang lain, yaitu unsur fisik amupun kimiawi. Raga manusia dituntut untuk tumbuh dan berkembang menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya. Seorang bayi mengalami proses penyempurnaan diri, mulai dari ketidakmampuan menggenggam samapai dengan kemampuan memasukkan makanan kedalam mulutnya. Hal ini menandakan ada proses perkembangan bagian tangan untuk menunjang gerak motorik si bayi.
Tetapi gerakan si bayi tidaklah semata-mata hanya karena unsur ragawi saja, masih ada unsur yang lain yaitu kehendak/ nafsu. Dalam hal ia menginginkan sesuatu maka unsur kehendaklah yang akan mengkontrol gerakan ragawi manusia. Unsur kehendak berasal dari jiwa manusia. Dalam hal ini jiwa dapat dikatakan sebagai sumber kekuatan yang terdiri dari akal , rasa dan kehendak.
Dalam hal menyikapi jiwa ini, terdapat dua sudut padang yang berbeda, yaitu pandangan timur dan barat. Menurut pandangan timur, penjelmaan jiwa adalah rasa (rasa yang dimaksud disini adalah rasa dalam upaya pencapaian nilai estetika, bukan pada rasa yang muncul sehari-hari), sedangkan pandangan barat menyatakan jiwa adalah pikiran. Adanya perbedaan sudut pandang inilah yang menyebabkan munculnya perbadaan dalam menyikapi suatu obyek tertentu. Menurut Rabindranath Tagore yang mewakili pandangan timur, ada kesatuan fundamental antara manusia dan alam, harmoni antara individu dan kosmos, sehingga muncul kecendrungan manusia timur “berteman” dengan dunia. Berbanding terbalik dengan pandangan barat yang ingin “ menguasai” dunia.
Manusia berdasarkan sudut pandang ilmu-ilmu sosial merupakan makhluk yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan (homo economicus), manusia sebagai makhluk sosial, manusia sebagai makhluk yang ingin punya kekuasaan, ataupun sebagai makhluk berbudaya (homo humanus).
2.b Sudut Pandang Psikologi
Sigmund Freud dalam teori psikoanalisnya, membagi manusia menjadi tiga sudut kepribadian, yaitu:
- Id (alam bawah sadar), yaitu dorongan/hasrat libido sebagai ciri alami manusia, yaitu ingin memperoleh kepuasan instingtual libidinal baik langsung maupun dalam khayalannya.
- Ego (alam sadar) adalah terciptanya suatu kesadaran internal dari diri manusia untuk mengkontrol tingkah lakunya sesuai dengan tuntutan lingkungan.
- Super ego, adalah struktur kepribadian akhir yang terbentuk akibat pengaruh lingkungan eksternal dan merupakan kesatuan standar-standar moral yang telah diterima oleh ego. Sehingga ditingkat ini manusia telah memiliki kaidah nilai etika terhadap objek yang ada dalam lingkungan.
Dari sudut perasaan, manusia memiliki dua macam perasaan, yaitu indrawi dan rohani. Perasaan indrawi adalah rangsangan jasmani melalui panca indra, sedangkan rangsangan rohani adalah merupakan perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia, misalnya : perasaan intelektual, etis, estetika, perasaan diri, perasaan sosial, dan perasaan religius.
3. Manusia Makhluk Individual Sekaligus Makhluk Sosial Yang Berbudaya
3.a Manusia Berbudaya
Dari segala uraian diatas maka dapat dikatakan manusia adalah merupakan makhluk individual sekaligus sebagai makhluk sosial, Sebagai makhluk sosial dalam upaya pencapaian kebutuhannya manusia harus berhadapan dengan manusia lain yang juga mempunyai kepentingan untuk memenuhi kebutuhan individualnya, sehingga kerap terjadi suatu konflik kepentingan antara manusia, sebagai jalan tengah akhirnya dimunculkan suatu nilai bersama yang disebut dengan etika bersama. Etika bersama inilah yang kemudian secara turun temurun menjadi suatu norma bersama dan akhirnya berkembang menjadi budaya.
Dalam bahasa latin budaya (colore) diartikan mengelola tanah yaitu segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi (pikiran) manusia dengan tujuan untuk mengolah tanah atau tempat tinggalnya atau dapat pula diartikan sebagai usaha manusia untuk dapat melangsungkan dan mempertahankan hidupnya di dalam lingkungan. Budaya dapat pula diartikan sebagai himpunan pengalaman yang dipelajari, mengacu pada pola-pola prilaku yang disebarkan secara sosial, dan akhirnya menjadi kekhususan kelompok sosial tertentu.
Setiap kebudayaan berakar pada sudut pandang serta pola penyikapan kelompok sosial tertentu terhadap apa yang dibutuhkannya. Itu semua tak terlepas pada kondisi alam lingkungannya, sehingga terjadilah perbadaan antara sudut pandang timur dan sudut pandang barat. Alam lingkungan yang subur menghasilkan berbagai kekayaan hayati dan non hayati yang menyediakan pemenuhan atas kebutuhan fiilnya telah membentuk budaya timur menjadi budaya yang berpola tidak kompetitif, kurang kreatif dan cenderung kooperatif. Sedangkan alam yang tidak subur akan menghasilkan budaya yang kreatif dalam mencari pemecahan konflik pemenuhan kepuasan fiil, dan cenderung bersaing secara individualistik.
3.b Polemik Kebudayaan
Tetapi seiring dengan makin berkembangnya permasalahan yang harus dihadapi manusia, seperti makin banyaknya populasi manusia, makin berkurangnya sumber daya alam, dan makin menguatnya persaingan atas keinginan manusia individualistik untuk bisa memenuhi kebutuhannya, terjadilah perkembangan kebudayaan yang berakibat adanya penyerapan budaya yang satu dengan yang lain sebagai side effect dari usaha pencarian sumber daya alam, maka munculah proses pergeseran kebudayaan diakibatkan perubahan pandangan moral maupun etika dalam suatu masyarakat tertentu.
Proses itu bisa berupa pertukaran ilmu pengetahuan, pertukaran sumber alam, pendidikan, informasi dan sebagainya. Hal inilah yang menjadi polemik yang berkepanjangan antara sudut pandang timur dengan sudut pandang barat, tentang pemberian makna dan nilai pada suatu permasalahan yang ada. Seiring dengan polemik yang terjadi itulah muncul sintesa dari dialektika timur versus barat yaitu internasionalisme.
4. Kebudayaan Internasional versus Kebudayaan Timur dan Kebudayaan Barat
Alvin Tofler dalam gelombang budayanya menyebutkan tahap perubahan tingkat budaya suatu masyarakat, yaitu:
a. Agriculture, bercirikan sebagai kehidupan masyarakat petani yang hidup dari alam
yang subur sehingga hanya sedikit masalah yang harus dipecahkannya.
b. Industri, semakin banyaknya populasi dan semakin berkurangnya sumber daya alam yang ada sangat mempengaruhi daya kreatifitas manusia untuk memecahkan masalah kebutuhan fiilnya, sehingga berkembangnya industri dalam rangka memaksimalkan pengolahan sumber daya alam yang ada. Dalam kondisi ini manusia menjadi semakin individual karena saling berebut alat pemuas kebutuhannya.
c. Informasi, Semakin bertambahnya populasi manusia, semakin sedikit pula sumber daya yang tersedia menyebabkan kelompok masyarakat harus mencari sumber dari wilayah kelompok masyarakat yang lain. Keadaan inilah yang menyebabkan manusia saling berlomba mencari dan bertukar informasi tentang sumber pemenuhan kebutuhannya.
d. Demokratisasi/Internasionalisasi, adalah tahap kesadaran manusia sebagai makhluk sosial yang hidupnya sangat tergantung pada manusia yang lain dalam rangka pemenuhan kebutuhannya, maka batas kelompok masyarakat sudah sangat meluas keseluruh penjuru dunia, pertukaran informasi berubah menjadi proses kerjasama saling menguntungkan dari setiap manusia maupun kelompok masyarakat. Masyarakat tidak lagi terikat dalam satu kelompok masyarakat diwilayah tertentu, karena kelompok baru yang terbentuk bukan berdasarkan batas wilayah yang ada, tetapi pada kesamaan kepentingan.
Kebutuhan manusia yang harus dipenuhi menurut Maslow dibagi menjadi lima, yaitu: kebutuhan fiil (dasar), yang apabila telah terlampaui akan merambah ke kebutuhan lain yaitu rasa aman, kebutuhan akan kehidupan sosial, kebutuhan atas penghargaan, sampai pada kebutuhan akan realisasi diri.
Ternyata kebutuhan manusia sangatlah tidak terbatas, manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah didapatnya. Adanya faktor psikologis Id yang menyeruak dari alam bawah sadar manusia. Adanya system nilai etika maupun norma dalam kehidupan bermasyarakat yang harus dipatuhi mengakibatkan manusia mengalami konflik intern dalam dirinya maupun ekstern dengan manusia yang lain.
Terkait dengan adanya konflik itulah maka manusia harus memilih antara sikap (a) bebas nilai, atau (b) tidak bebas nilai dan terikat pada nilai moral tertentu. Bebas nilai artinya harus melepaskan diri dari aturan nilai moral atau etika tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhannya secara individual dan berpaham liberalisme. Sedangkan yang tidak bebas nilai dan terikat pada nilai moral tertentu, cenderung lebih kooperatif pada masyarakat dan lingkungannya, karena mendasarkan kerjasama untuk saling melengkapi kebutuhannya dan berpaham sosialisme.
Perbedaan dalam menyikapi nilai untuk memenuhi kebutuhannya inilah yang mengakibatkan perbedaan pula dalam pola pendekatan dibidang ekonomi, sosial-kultural, politik, pendidikan, human relation, public relation dan lain-lain. Adanya penyikapan baik dari sudut pandang barat maupun dari sudut pandang timur mengakibatkan pula adanya dua jenis penyikapan, yaitu (1) bertindak ekstrim menolak perubahan budaya sehingga muncullah segmentasi budaya timur tradisional dan budaya barat tradisional, (2) menerima pencampuran budaya timur dan barat sehingga menghasilkan budaya baru, yaitu kebudayaan internasional.
Adanya penerimaan terhadap pencampuran budaya inilah yang mengakibatkan terjadinya pergeseran nilai dalam sikap manusia, yaitu:
a. akibat tidak ramahnya alam, maka manusia dengan budaya internasionalnya akan cenderung sangat individual, tetapi dalam mencapai keinginannya harus mampu memanfaatkan kehidupan sosial yang ada,
b. adanya percampuran alam pikir mistis dari timur dengan alam pikir rasional dari alam pikir barat. Akibat adanya proses pendidikan maka sisi rasional manusia timur makin meningkat, sedangkan semakin banyaknya masalah yang tak sanggup dipecahkan oleh akal, maka manusia barat sampai pada titik pencarian sandaran pada kekuatan yang irasional dalam usaha memecahkan masalahnya (berpola mistis). Dalam hal ini muncullah kesadaran dari pandangan timur modern yang merasakan pentingnya sisi logika-rasional dalam mengambil keputusan dan tindakan, sedangkan dunia barat modern telah mencapai satu titik puncak ketidakmampuan memecahkan suatu masalah, dan hal itu dikarenakan ketidakmampuan mereka mengelola tekanan yang dialami, setelah mengadakan beberapa penelitian, maka cara yang terbaik untuk mengelola tekanan yang adalah dengan pengendalian sisi spiritual (mistis) untuk mencapai ketenangan sehingga mampu memecahkan masalahnya.
c. tidak ada batas wilayah berkaitan dengan kelompok masyarakat. Yang muncul adalah masyarakat tanpa negara, tetapi kesatuan dan kerjasama bersandarkan pada kesamaan untuk saling memenuhi kebutuhan dan kesamaan sudut pandangnya. Sehingga terjadilah sintesa dari sisi individual liberalis dengan sosialis yaitu individual-sosialis, dalam arti kehidupan sosial sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan individual, apabila lingkungan kerjasama sosial sudah tidak menguntungkan kepentingannya maka ia akan beralih mencari kelompok lain yang mau dan mampu bekerjasama dengannya.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda